Kapan Kita Meninggal?

Biasanya saya menulis hal-hal yang lucu di hari Jumat. Tetapi hari ini saya sedang berduka atas meninggalnya Ustadz Jeffry Al Buchori dini hari tadi. Sungguh tak elok saat berduka kita bercanda. Ustadz yang sering disapa dengan panggilan UJE ini meninggal sepulang dari Dai Centre, menebar kebaikan. “Semoga kau berada di tempat yang terhormat wahai saudaraku.”

Kematian tak mengenal waktu, tempat dan usia. Kematian tak bisa dimajukan dan dimundurkan. Apabila saat kematian (ajal) telah tiba, pada saat itulah kita meninggal, tak peduli apakah kita sedang bercanda dengan keluarga, tidur atau mungkin sedang di tempat pesta.

Belum lama ini saya mendapat kabar, ada orang tua yang meninggal saat melihat anaknya di wisuda. Beberapa tahun yang lalu saya membaca berita di koran Kompas. Disebutkan ada orang berusaha bunuh diri sudah empat kali tetapi selalu gagal. Begitulah bila ajalnya belum tiba. Sebaliknya, saat ajalnya tiba kematian tak bisa ditunda walau kita dikawal dengan pasukan khusus dan terlatih.

Kematian itu misteri, tak ada yang tahu waktunya. Tugas kita selalu berupaya menciptakan suasana dan kondisi yang baik saat kita meninggal. Kita harus selalu merasa takut berbuat maksiat karena khawatir saat kita maksiat ajal menjemput. Saya pernah membaca berita ada seorang anggota dewan meninggal saat sedang berbuat mesum di Tawangmangu Jawa Tengah. Nauzubillahi min dzalik…

Tugas kita yang lain adalah menyiapkan bekal untuk pulang ke kampung akhirat. Sering-seringlah bertanya, “Andai ajal menjemputku hari ini, apakah bekal yang saya bawa sudah cukup untuk hidup terhormat di akhirat?” Bila Anda sudah merasa banyak berbuat baik, ajukan pertanyaan tambahan, “Mungkinkah bekalku ini diterima oleh Sang Maha Kuasa? Atau jangan-jangan kebaikan yang saya lakukan hanya berharap puja puji manusia?”

Di dalam diri kita haruslah ada perpaduan antara harapan dan kekhawatiran. Berharap bahwa semua hal yang kita lakukan di dunia bisa menjadi bekal ke akhirat. Di sisi lain, kita harus merasa khawatir bahwa kebaikan yang kita lakuka sia-sia dihadapan Sang Maha Tahu. Sungguh amat rugi bila lelah kita tak bernilai ibadah.

Pada hakekatnya, kita semua sedang menunggu antrian. Boleh jadi hari ini UJE, beberapa menit lagi giliran kita dipanggil, tak ada yang tahu.

“Ya Allah, panggilah aku ketika aku sedang berbuat kebaikan dan berlari mendekat kepada-Mu. Jangan Engkau matikan aku saat aku sedang bergelimang maksiat.”

“Sungguh ya Allah, aku ingin meninggal dengan khusnul khotimah dan bekal yang cukup untuk bisa berjumpa dengan-Mu dan Engkau izinkan aku kelak memeluk kekasih-Mu, Muhammad saw. Aku merindukan kesempatan itu ya Allah. Pantaskan aku…. Pantaskan aku… Pantaskan aku…”

Salam SuksesMulia!

Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter: @jamilazzaini


TBnCbatch8


Bagikan

30 thoughts on “Kapan Kita Meninggal?

  1. Selamet Hariadi

    Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. telah wafat ustadz JEFRY AL – BUCHORI pagi ini. Smg ALLAH memudahkan Beliau mendapat Ridho & SurgaNya…

    Semoga ALLAH memampukan kita menjadi Manusia yg bermanfaat hingga maninggal dunia pun Manfaatnya masih dirasakan.

    :)
    Semangat SuksesMuli!

    Reply
  2. Desrianza Abidin

    “Ya Allah, panggilah KAMI ketika KAMI sedang berbuat kebaikan dan berlari mendekat kepada-Mu. Jangan Engkau matikan KAMI saat KAMI sedang bergelimang maksiat.”

    “Sungguh ya Allah, KAMI ingin meninggal dengan khusnul khotimah dan bekal yang cukup untuk bisa berjumpa dengan-Mu dan Engkau izinkan KAMI kelak memeluk kekasih-Mu, Muhammad saw. KAMI merindukan kesempatan itu ya Allah. Pantaskan KAMI…. Pantaskan aku… Pantaskan KAMI…” :)

    Amiiin, ya Robbal ‘alamin…

    Reply
  3. ike

    Innalillahi wa inna ilaihi roji’un,,semoga segala amal kebaikan beliau diterima di sisi Allah SWT…pak jamil boleh saya minta alamat e-mailnya?

    Reply
  4. robet dwiputra

    merinding kek..
    semoga kita semua bisa meninggalkan dunia ini dengan huznulhotimah.

    Reply
  5. Renny

    Subhanallah…….syukron kek,,,Semakin berhati2 dlm setiap langkah,

    Yaa Allaah,,,,,matikan aku di tanah airku atau di suci Mu dlm khuznul khotimah di kelilingi keluargaku, bukan disini…dinegri beton ini….aamiin

    Reply
  6. Dita Sefty

    U went so soon..so soon.. U left so soon.. So soon.. إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ .. selamat jalan UJE, semoga Allah menerima segala amal ibadah dan iman islam UJE.. diampuni dosa-dosanya.. aamiin

    Reply
  7. iko

    آمِيّنْ… يَ رَ بَّلْ عَلَمِيّنْ .. . Smoga kita ‘pulang kampung’ dg khusnulkhotimah. Jumat yg sedih

    Reply
  8. asmidah siregar

    innalillah… semoga amal ibadah almarhum diterima disisi Allah dan keluarga yg ditinggalkan diberi ketabahan…
    Amin

    Reply
  9. Mhd Dolly

    Maut tak dapat dicegah..

    banyak peristiwa kematian yang kita lihat… inilah pelajaran berharga bagi yang masih bernyawa..

    tapi saya heran masih ada manusia yang sudah melihat proses kematian, dan proses penguburan saudaranya, teman atau anggota keluarganya namun tak mengambil hikmah dri kematian itu.

    hidupnya masih disbukkan dgn urusan2 yg tak bermanfaat bagi dirinya ataupun bagi kebaikan orang lain.

    selayaknya orang2 seperti ini wajib membaca ini..
    http://jamilazzaini.com/memprioritaskan-yang-setara/

    insya Allah kegiatan kita diisi dgn sesuatu yang memang kita prioritaskan.

    insya Allah dlm kondisi apapun, ketika Allah akan memanggil kita, kita sudah siap.

    terima kasih pak jamil, ilmu2 berharga sudah dituangkan di web ini.. saya sangat terinspirasi, semoga kehidupan saya terangkat baik di sisi manusia dan tentunya juga dihadapan Allah SWT..

    Reply
  10. bunda icha

    Semoga amal ibadah di terima Allah SWT dan di beri kesabaran untuk keluarga yang ditinggalkan…

    Reply
  11. Rian

    Tak ada alasan utk takut dengan kematian. Hanya masalah waktu saja. Sebelum itu datang. Seperti yg diurai diatas, banyak2lah berbuat kebajikan. Jika sudah, apakah diterima kebaikan kita.

    Terima kasih utk sharingnya

    Reply
  12. tebe

    Maut tak kenal waktu, kala sedih,kala senang,kala duka,kala suka,kala gembira, kala sakit, kala sehat…. oleh karena itu berbuatlah kebaikan, perbanyak amal, perbanyak ibadah, perbanyak berbuat yg terbaik untuk sesama. Agar pada saat maut datang bekal kita cukup diakherat. Selamat jalan Uje, semoga Allah SWT memberikan tempat yang terbaik untukmu.

    Reply
  13. ema

    Jadi nangis bacanya kek, sy juga abis nge tweet renungan diri ttg kematian…tak ada yg tau, dan malaikat tak bisa ditawar untuk memundurkan wktu “pulang” saya :(

    Reply
  14. EMIL FADLI

    “Yang aku takuti bukanlah kematian. karena kematian memutuskan aku dengan duniaku. yang aku takuti adalah menyia – nyiakan waktu karena menyia-nyiakan waktu memutuskan aku dengan tuhanku. ”

    (nasehat Imam Syafi’i rahimahullah)

    Reply
  15. dui

    kapan Kematian kita ? jawabnya “KAPAN SAJA”…
    betul kata kakek, semoga kita dipanggil dalam keadaan baik, setelah berbuat baik, dengan cara yang baik. amin

    Reply
  16. Susu Kambing

    Kita tidak pernah tau kapan WAKTU KITA tiba. BUkan masalah kapan dan dimana?
    Yang perlu kita persiapkan adalah BEKAL apa yang akan kita bawa.

    Salam SUKSES MULIA
    distributor Susu Kambing

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>