Kreatif atau Nakal?

Setiap keluarga punya kriteria sendiri tentang keberhasilannya mendidik anak dalam aspek pendidikan. Ada yang menganggap sukses mendidik anak apabila anaknya mendapat ranking di sekolah. Sementara kalau di keluarga saya, ukurannya bukan ranking tetapi berapa banyak jumlah teman baiknya dan keaktifan anak saya di organisasi sekolah.

Namun, apabila ternyata anak saya mendapat ranking, itu adalah bonus. Selain itu, saya selalu menekankan pentingnya kejujuran dan menjauhi nyontek. Nilai besar tapi nyontek itu aib bagi keluarga kami. Kami juga menekankan pentingnya kedekatan dan ketundukan dengan guru. Walau tentu bukan “tunduk” buta dan tak berani kritis terhadap gurunya.

Saya ingin anak saya enjoy di sekolah dan tak kehilangan kreativitasnya. Sebab, kreativitas itu merupakan ciri utama dunia anak-anak. Jauhi stempel kata “nakal” atau “bandel” kepada anak-anak yang kreatif. Kalaupun anak yang kreatif itu memang bandel atau nakal tugas guru dan orang tua mengarahkannya bukan sering memarahinya.

Dikisahkan, seorang anak yang konon katanya bandel terlambat datang ke sekolah. “Kenapa kamu terlambat?” tanya gurunya. Murid itu menjawab, “Saya kecopetan, bu.” Dengan perasaan khawatir guru itu kemudian bertanya, “Kamu tidak apa-apa, kan?” Murid itu menjawab, “Alhamdulillah, gak apa-apa, bu. Saya baik-baik saja.” Guru bertanya lagi, “Apa yang dicopet?” Dengan cepat murid itu menjawab, “Semua buku PR, bu.”

Setelah pelajaran dimulai, anak yang dicap bandel bernama Wawan itu ditanya oleh gurunya, “Wawan dimana letak paru-paru?” Murid itupun menjawab, “Tidak tahu, bu.” Guru itu jengkel dan menghardik, “Bodoh kamu, keluar!” Maka, dengan buru-buru Wawan keluar. Tidak berapa lama kemudian, Wawan masuk kelas dengan berkata, “Bu, di luar juga tidak ada paru-paru.”

Ternyata bukan hanya Wawan yang tidak mengerti pelajaran, murid-murid yang lainpun banyak yang tidak tahu. Minggu depannya, guru itu menguji murid-muridnya, “Ada yang ingat pelajaran minggu lalu?” Suasana kelas menjadi hening. Kembali guru itu bertanya kepada Wawan, “Hei Wawan, kamu masih ingat?” Dengan tenang Wawan menjawab, “Sudahlah bu, yang lalu biarlah berlalu.”

Hehehe… Anak-anak adalah calon pewaris negeri ini. Mari bimbing dan arahkan anak-anak dengan suka cita dan bibir tersenyum. Setuju?

Salam SuksesMulia!

Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter: @jamilazzaini

Bagikan

27 thoughts on “Kreatif atau Nakal?

  1. Syarifudin

    Kwkwkwkk ..

    “Yang lalu biarlah berlalu ” …
    Move #On ..

    Ending nya bikin tepom jidat ..

    Jumuah mubarrok kek JA …

    Syarifudin
    @arief_neji

    Reply
  2. basith

    Bener yai, saya termasuk produk olahan pendidikan kuno atau klo boleh di sebut “konservatif “,dan sedikit bnyk mempengaruhi pola pikir, sikap hidup dan mental saya, dg pola pendidikan yg kuno itu membuat saya inferior, tdk muncul kretifitas saya, jujur pola pendidikan yg msh terpengaruh kitab ta’ limul muta’ allim menghambat keluar nya potensi saya sbg manusia yg memiliki potensi dan kebebasan berfikir, untung saya jg bersentuhan dg dunia modrn mahasiswa dan dinamika organisasi mahasiswa, pikiran saya mjd terbuka, tetapi prinsip qoidah ushul fiqh melestarikan hal lama yg baik dan mengambil budaya baru yg lebih baik tetap saya pegang,

    Reply
  3. ali samsudin

    sudahlah kek, anak2 tetaplah kreatif dan polos, kakeknya yg mengarahkan biar ga nyebur jurang yang terlalu dalam. he he

    Reply
  4. syarmidah

    Betul itu bang…anak kreatif memang biasanya nakal maka tugas kitalah utk mengarahkannya..
    Salut buat bang Jamil…

    Reply
  5. andy sukma lubis

    Move ON for life….mengajar dari hati.
    Anak2 di rumah juga ditanamkan kejujuran saat ujian atau ulangan di sekolah. Mudah2an anak2 kita semua akan menjadi penerus yang berakhlak mulia, cerdas dan santun dalam bersikap.

    Reply
  6. Syaifur Amuro |@syaifuramuro|

    Betul Kek Jamil, kewajiban kita sebagai orang orang tua adalah memberikan contoh dan akhlak terpuji bagi anak-anak kita. Serta menumbuhkan kembangkan kreativitas anak.

    Mendidik anak sesuai zamannya. Maka orang tua dituntut terus belajar, hingga bisa mendampingi anak disaat tumbuh kembangnyan, dapat memberikan pola asuh yang tepat.

    Moga kita bisa menjadi orang tua bijak, hingga tumbuh anak yang kreatif. Akhirnya menjadi generasi tangguh yang expert dengan talent yang luar biasa.

    Reply
  7. MU'ANAH AL SRI MULYANI

    Satu Lagi Kek….Alkisah seorang Bapak berujar ke anaknya “Awas yah, kalo UN kamu gak lulus, mending gak kenal bapak sekalian”. Begitu selesai UN, Bapaknya bertanya ke anak “Kak, gimana UN kamu”…. Sambil ngeloyor si anak menjawab “Bapak siapa??”… gkgkkgkgkg

    Reply
  8. Azhar Ilyas

    hmm, sulit juga ya menentukan. semoga keteladanan orang tua dan kehangatan dalam keluarga dapat menjaga si anak sehingga menjadi seorang yang kreatif. Saya saat ini sarjana di sebuah fakultas ekonomi. Ternyata saat ini saya menyadari banyak potensi yang bisa dikembangkan sekiranya kita dapat mengenalinya sedari dini. Rezeki tak hanya dari dunia kerja tapi tetap harus bekerja untuk memperoleh rezeki, dengan kreatif dan inovatif serta kejujuran.

    Iya, kan, Kek?

    Reply
  9. olivia avriyanti hanafiah

    Ass, gimana mengatasi anak yg berbohong?sampai dgn yakinnya menyatakan bahwa dia tdk melakukannya padahal dia berbohong, anak saya laki laki 13 tahun, lagi masa abg
    Sudah nasehat, punishment dan reward diberikan, tetap diulangnya
    Berubah 180 derjat sejak masuk smp, krn teman sekolah, udah mendatangi wali kelas, belum ada perubahan
    Apakah ada metoda lain menghadapi anak yg lg abg ini?apakah anak laki laki abg sulit dipahami?makasih

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>